cerpenku nih…

Juni 18, 2009 at 8:02 am (Uncategorized) ()

SETULUS CINTA KAKEK
Telah lama aku mengenalnya, sejak aku menghirup udara dunia yang telah terkontaminasi nafas-nafas manusia yang berlumur dosa. Beliau kekar waktu itu, setiap hari ketika aku merengek beliau pasti akan mengangkatku tinggi – tinggi seraya membesarkan hatiku.
“Anak hebat harus kuat, tidak menangis tidak cengeng!”
Maka aku akan berusaha berhenti menangis. Ketika tangisku telah berhenti, beliau akan tertawa dan memberiku hadiah gula – gula. Beliau begitu menyayangiku. Karena aku adalah buah hati beliau, karena aku adalah putra yang dinantikan dalam keluarga ini. Aku adalah cucu kesayangannya, maka tak heran ketika kedua orang tuaku harus pindah ke luar pulau beliau menahanku di sini. Di sini di rumah yang menjadi saksi perjuangan hidup beliau aku tumbuh besar dalam didikan beliau dan sang istri, nenekku.
Kakekku, seorang lelaki hebat yang kukenal. Di hari tuanya dia tidak mampu berdiam diri duduk santai di rumah. Selalu saja ada pekerjaan yang beliau lakukan. Entah di kebun, di halaman belakang, di sawah dan lainnya. Beliau adalah pahlawan bagiku, ayahku yang kedua. Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, beliau tidak pernah absen mengantar dan menjemputku ke sekolah dengan sepeda kumbangnya, kecuali beliau ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Bila begitu, maka beliau akan menyuruh salah satu pekerjanya untuk menggantikan beliau. Terkadang beliau mengajakku berjalan – jalan dengan sepeda kumbangnya mengelilingi kampung, melihat – lihat kebun dan sawah beliau. Sesekali aku juga diajak berkunjung ke rumah teman – teman beliau. Orang – orang tua yang harus aku hormati dan kupanggil kakek pula.
Bisa dikatakan aku hidup bahagia dalam limpahan kasih sayang kakek dan nenekku. Nenekku, adalah wanita yang pintar memasak dan sangat penyayang. Tak salah kakek memilih nenek sebagai istrinya, nenek adalah salah satu peredam amarah kakek selain aku. Mereka berdua teramat berarti bagiku. Bila waktu tidur tiba, salah satu dari mereka akan mengantarku menuju tidur yang lelap diiringi doa dan dongeng – dongeng tentang kepahlawanan. Biasanya tentang masa perjuangan kemerdekaan dulu. Setiap malam sebelum tidur aku selalu berdoa bersama mereka. Jika mereka mulai mendongeng pastilah mereka berpesan padaku seperti ini.
“Jadilah anak yang berbakti pada orang tua cucuku. Jika besar nanti jadilah seorang ksatria seperti namamu. Jadilah orang yang berguna pada agama dan bangsa serta senantiasa menegakkan kebenaran dan keadilan.”
Aku tahu itu adalah doa beliau berdua. Itu adalah harapan beliau berdua. Aku berjanji akan berusaha mewujudkan harapan itu. Aku akan berusaha membuat mereka bahagia dan bangga akan diriku.
Salah satu hal yang membuatku bangga ialah ketika aku tahu bahwa kakekku adalah seorang pejuang pada masa kemerdekaan dulu. Aku tahu bahwa kakekku adalah seorang pejuang veteran ketika aku mengikuti upacara Tujuh Belas Agustus untuk pertama kalinya di lapangan kecamatan. Saat itu kudengar nama kakekku disebut agar maju ke tengah lapangan untuk menerima penghargaan dari pemerintah yang diwakilkan pada bapak camat.
Sepulang dari upacara, aku segera menemui nenek dan menanyakan perihal yang kusaksikan tadi di lapangan. Menanggapi itu nenek lalu bercerita tentang masa muda kakek. Sungguh aku bertambah bangga menjadi cucunya. Rasa sayangku semakin bertambah pada beliau. Waktu itu kakek tidak berada di rumah aku tak sabar menanti beliau untuk memeluk beliau. Ketika kakek tiba, aku segera menghambur memeluk beliau.
“Kek, mengapa kakek tidak pernah bercerita kalau pemuda yang sering kakek ceritakan adalah kakek sendiri?” Tanyaku masih dalam pelukan beliau.
“ Untuk apa diceritakan? Sesuatu yang baik itu tidak perlu diceritakan pada semua orang, karena sesuatu yang baik akan tercium dengan sendirinya tanpa kita menyeberkannya.” Jawab kakek sambil mengelus kepalaku.
“Aku ingin jika aku besar nanti bisa seperti kakek, apakah aku bisa kek?” Aku bertanya sambil terus memeluk beliau.
“Tentu saja tidak bisa. Kau tidak akan bisa seperti kakek” Jawab kakek datar sambil melepaskan pelukanku dan meletakkan tubuhku di atas pangkuan beliau.
“Mengapa aku tidak bisa seperti kakek? Aku kan juga laki – laki seperti kakek.” Aku mulai sedih.
“Karena sekarang tidak ada perang. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Kau mau perang melawan apa?” Kakek menggodaku.
“Berarti sekarang tidak ada lagi pahlawan kek?” Aku mulai kebingungan.
“Satria cucuku, sekarang memang tidak ada perang tapi bukan berarti kita harus berhenti berjuang. Kita masih harus berjuang, masih banyak yang harus diperjuangkan. Menjadi pahlawan tidak harus berperang, pahlawan adalah orang – orang yang berguna bagi kehidupan, orang yang menegakkan kebenaran, melawan kedzaliman dan berbuat baik untuk orang banyak demi mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera.” Jelas kakek sambil tetap mengelus kepalaku.
Sejak saat itu kuteguhkan niat dalam diri ini. Esok aku harus menjadi seorang pahlawan dengan cara member daya guna bagi orang banyak dan member yang terbaik bagi agama, bangsa dan negara. Aku bertekad dan berjanji.
Sekarang aku telah beranjak dewasa. Perlahan aku mulai tahu bagaimana kehidupan ini penuh akan liku – liku yang menantang kita untuk kuat bertahan tetap menjadi manusia yang baik. Minggu depan, aku akan resmi menjadi siswa SMA. Aku tidak lagi memakai celana pendek, dengkulku tidak terlihat lagi. Pastinya predikat ABG akan berganti menjadi prediakt baru menjadi remaja. Aku akan bersekolah di sekolah terfaforit di kabupatenku. Jauh memang, untuk sampai ke sana aku harus menempuh jarak sekitar dua puluh lima kilometer. Sehingga tidak aneh bila aku ingin mengikuti jejak kakak – kakak kelasku yang melanjutkan sekolah ke sana untuk mengekos bersama mereka.
Sore itu kunyatakan niatku pada kakek. Perhitunganku bila kakek mengizinkan aku masih punnya waktu beberapa hari untuk memindahkan barang – barangku ke kosanku nanti. Sayangnya kakek menentang keras niatanku. Memang beliau sudah tua tapi usia tidak mampu mengurangi kewibawaan beliau sehingga dengan rambut yang memutih di sana – sini, beliau masih bisa membuat lawan bicaranya menurut. Salah satunya aku yang tidak bisa membantah lagi ketika beliau memvonis tidak untuk mengekos.
Sejak itu aku tidak begitu dekat lagi dengan kakek. Hubungan kami mulai merenggang. Bukannya aku marah pada beliau, tapi rasa lelah harus menempuh jarak jauh setiap pulang pergi sekolah membuatku lebih banyak tidur dari pada menemani beliau melaksanakan rutinitasnya. Sungguh melelahkan sekali harus naik turun bis dan berganti omprengan setiap hari. Terlebih bila bis penuh aku harus berdiri, maklum aku adalah pelajar yang membayar dengan tarif pelajar pula.
Sebenarnya kakek punya sebuah sepeda motor, aku pernah meminta beliau untuk memakainya pulang pergi sekolah bila beliau tidak mengizinkan aku mengekos. Sayangnya beliau tidak mengizinkan. Sepeda tersebut sudah dipasrahkan pada mang Udin untuk berkeliling kampung memeriksa sawah – sawah beliau. Kakek tidak tega bila mang Udin harus berkeliling kampung dengan sepeda angin. Mang Udin adalah orang kepercayaan beliau. Aku benar – benar heran, tidak biasanya kakek mempersulitku seperti ini. Biasanya apa yang kuminta pasti akan langsung beliau usahakan.
Aku benar – benar bingung, di satu sisi aku ingin lebih nyaman dalam menuntut ilmu dengan mengekos. Selain itu juga melatihku untuk belajar hidup mandiri. Tapi di sisi lain aku tidak tega jika harus meminta motor yang baru pada kakek. Meski aku tahu setiap kali panen kakek menerima keuntungan yang sangat lebih bila dipakai untuk membeli motor.
Jenuh rasanya memikirkan hal itu, kejenuhan itu menuntunku untuk sering – sering keluar rumah di waktu senggang untuk mencari suasana baru. Biasanya aku akan berkunjung ke rumah Hendra teman SMPku dulu. Sekedar mengobrol ini dan itu atau untuk mencurahkan segala isi hatiku yang kacau bila mengingat masalahku dengan kakek.
Seperti pagi tadi ketika aku berpamitan pada nenek ketika hendak berkunjung ke rumah Hendra. Nenek sempat berpesan padaku agar aku tidak terlalu lama bermain di rumah Hendra. Karena telah beberapa hari kakek sering keluar rumah sehingga nenek sering merasa kesepian.
“Memangnya kakek ke mana nek?” Tanyaku penasaran karena tidak biasanya kakek keluar rumah terlalu sering.
“Katanya ada kegiatan di kota. Entahlah nenek tidak begitu paham.” Jawab nenek sambil membersihkan debu yang menempel di meja dengan kemucing.
“Mungkin ada kegiatan di legiun veteran nek, bukankah bulan depan adalah bulan November, dan di bulan itu ada hari pahlawan.” Jawabku sambil meraih tangan nenek hendak bersalaman.
“Iya, sepertinya begitu. Kau sudah mau pergi? Jangan lama – lama ya?” pesan nenek sekali lagi.
“Baik nek, Satria pergi dulu. Assalamualaikum.” Aku berpamitan pada beliau seraya mencium tangan beliau.
Rumah Hendra tidak jauh dari rumah kakek. Sekitar seratus meter atau lebih sedikit. Tidak sampai lima menit aku sudah tiba di rumahnya. Kudapati dia sedang menyirami tanaman ibunya dengan cairan pupuk organik. Dia tidak menyadari kehadiranku.
“Assalamualaikum, sibuk nih?” Aku setengah berteriak agar dia menyadari kehadiranku.
“Waalaikum salam. Yah , beginilah sedikit sibuk. Hanya menyirami tanaman ibu. Sebentar lagi juga selesai. Duduklah dulu aku selesaikan pekerjaanku dulu ya?” Hendra menyilahkan aku untuk duduk di terasnya.
“ Sini aku bantu saja, sekalian biar pekerjaanmu cepar selesai.” Aku meraih tiimba yang dipegangnya.
“Wah, sudah jangan nanti bajumu kotor. Kamu kan sudah mandi. Biar aku saja yang menyelesaikan. Sebentar lagi selesai.” Hendra menolak bantuanku.
Aku tak ingin membuag – buang waktunya lagi, maka aku lalu duduk di terasnya yang nyaman, membaca majalah – majalah yang memang sengaja diletakkan di sebuah rak di sudut teras agar siapa saja yang singgah di teras tersebut dapat membaca majalah tersebut. Sebagian besar majalah tersebut adalah majalah tentang tanaman hias. Ibu Hendra adalah penggemar tanaman hias.
Setelah Hendra membereskan pekerjaannya, kamipun mulai mengobrol. Untuk itu kami lalu pindah tempat ke kebun belakang. Sebuah gubuk sengaja didirikan oleh ayah Hendra untuk tempat beristirahat di siang hari. Sewaktu SMP dulu aku dan teman – teman sering menggunakan gubuk tersebut sebagai markas kelompok kami. Sejak kami lulus SMP hanya aku dan Hendra yang sering bertemu. Teman – teman yang lain melanjutkan sekolah ke sekolah kejuruan yang letaknya lebih jauh dari kota tempatku bersekolah. Oleh karena itu hanya aku dan Hendra yang sering bertemu setiap minggunya.
Kami terlalu asyik mengobrol. Terlebih lagi saat ini adalah musim mangga dan kami dengan asyiknya rujakan di gubuk tersebut. Sehabis ashar aku baru teringat rumah. Begitu ingat rumah aku segera berpamitan pulang, kasihan nenek pasti sendirian di rumah.
Mentari telah condong ke arah barat, para buruh tani mulai pulang ke rumah masing – masing. Aku yakin nenek pasti akan menanyakanku ini dan itu karena aku telat pulang. Aku menyiapkan diri untuk itu semua. Dalam hati aku berdoa agar nenek tidak marah padaku.
Ketika aku sampai di rumah kudapati nenek sedang menyulam di ruang tengah. Nenek gemar sekali menyulam. Seprei di kamarku adalah sala satu hasil sulaman nenek.
“Assalamualaikum, maaf nek saya telat pulang . Tadi masih diajak rujakan.” Aku takut – takut mengaku.
“Waalaikum salam, lain kali jangan diulangi lagi ya? Kau telah tahu kalau nenek di sini kesepian.” Jawab nenek sambil terus menyulam.
“Saya mandi dulu ya nek?” Aku mohon diri.
“Ya, mandilah jangan lupa setelah itu kita makan malam.” Jawab nenek masih terus menyulam.
Akupun masuk kamar, tiba – tiba ada sesuatu yang tidak biasa di kamarku. Sebuah benda asing masuk tanpa izin ke kamarku. Sebuah sepeda motor keluaran terbaru yang saat ini menjadi idola anak – anak muda Indonesia. Warnanya hitam mengkilat, dengan sripping merah menyala menarik sekali.
Aku penasaran, segera kutemui nenek yang masih menyulam di ruang tengah. Aku hendak menanyakan perihal sepeda tersebut.
“Nenek, sepeda motor di kamarku itu milik siapa?” Tanyaku penasaran
“Tentu saja milik penghuni kamar itu.” Nenek menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
“Milikku nek?” Tanyaku tidak percaya.
“Iya, kata yang mengantar tadi sepeda itu dibeliakan kakek khusus untukmu.” Jawab nenek datar.
Kakek, entah telah berapa hari aku jarang bersama beliau. Sejak kejadian tersebut, aku sering sebel pada beliau. Tiba – tiba ada rasa yang menyeruak, sebuah sesal dan rindu yang bercampur jadi satu. Aku ingin bertemu beliau lagi untuk meminta maaf atas kelakuanku selama ini. Bila kakek datang nanti, aku akan menghambur ke dalam peluknya seraya meminta maaf.
Sejak itu aku mulai mengerti, seseorang yang menyayangi kita dengan tulus tahu apa yang kita inginkan, tapi dia akan lebih tahu apa yang kita butuhkan.

Iklan

Permalink 1 Komentar

KETAHUAN (kenangan bersama ayah)

Mei 13, 2009 at 5:27 pm (Uncategorized) ()

Aku sangat dekat dengan ayah, mungkin karena dulu aku suka ikut ke manapun ayah pergi, kecuali ketika aku memang tidak diperbolehkan untuk ikut beliau. Begitu dekatnya aku dengan beliau, hampir semua apa yang aku minta selalu dituruti, kecuali jika beliau memang tidak bisa memenuhinya. Sebagai seorang anak yang tumbuh dan tinggal di kawasan pedesaan, aku juga sama seperti anak – anak yang lainnya. Kami sangat gemar sekali menciptakan dunia kami dalam sebuah lingkungan pribadi yang hanya kami yang tahu serta bisa memasukinya. Biasanya kami menjadi penguasa terhadap dunia kami. Intinya itu adalah areal kami. Mau masuk it’s OK tapi dilarang mengganggu.
Suatu hari, aku ingin meniru seorang teman yang telah membangun dunianya lewat sepetak gubuk – gubukan yang terbuat dari jerami, kayu – kayu, pelepah kelapa dan lain sebagainya. Karena lokasi dunia tersebut agak jauh untuk ukuran anak kecil waktu itu,maka saya punya impian untuk memiliki dunia itu di halaman rumah. Maka di sebuah sore, sambil menemani Bapak membuat kandang ayam, saya minta pada bapak untuk dibuatkan gubuk seperti milik teman – teman yang lainnya.
Bapak menyanggupi, bahkan beliau bilang kalau akan membuatkan sebuah gubuk yang paling bagus di antara gubuk – gubuk milik teman – teman yang lainnya. Dengan satu syarat, saya tidak boleh bermain terlalu jauh dari lingkungan rumah. OK..OK saya sepakat. Keesokan harinya, sebuah gubuk beratapkan plastik bening berdiri di bawah pohon mangga di depan rumah. Ukurannya sekitar 1 x 1,5 meter. Dindingnya adalah tumpukan bata yang memang telah ada di situ sebelumnya. Hari itu saya resmi memiliki sebuah teritorial kecil. Sebuah gubuk yang repersentatif, bisa disinggahi oleh siapa saja. Letaknya di bawah pohon mangga, sehingga saya bisa memandangi daun – daun dan dahan – dahan mangga yang menghijau menyejukkan. Untuk bisa menjadi sebuah rumah maka, saya isi hunian saya dengan selembar karung yang saya ambil dari gudang sisa karung untuk hasil panen bapak. Karung tersebut saya sobek salah satu sisinya sehingga lebih lebar. Ternyata karung tersebut masih akan dipergunakan oleh bapak, tapi akhirnya bapak merelakan karena saya tidak mau ketika beliau hendak mengganti karung tersebut dengan tikar yang sudah terurai di sana – sini. Selain itu saya lengkapi dengan sebuah tungku yang saya buat dari tiga buah baut bata. tempat saya menjerang air ataupun membakar ubi.
Suatu hari ketika saya sedang berbaring santai sambil memandangi dedaunan, saya melihat ada sebuah sobekan yang panjangnya sekitar 5 cm di tepi kanan atap rumah kecil saya. Karena saya adalah orang yang perfectionist, maka saya menganggap ini adalah awa; malapetaka. Saya takut sobekan kecil itu akan membuat rumah saya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Maka begitu saya bertemu bapak saya mengadukan kerusakan tersebut.
“Gunakan saja dulu, nanti kalau sudah rusak benar bapak ganti dengan terpal biru.Sekarang pakai ini dulu.” Jawab bapak.
Aku mengiyakan dan menurut. Akan tetapi jiwa perfectionistku yang senantiasa was – was rumahku tidak akan sempurna dengan sobekan itu, mambuatku tidak tenang.
Tiga hari berikutnya, ketika saya sedang berada di dalamnya saya pandangi atap yang sobek itu. Tiba – tiba muncul pikiran gila. Entah kenapa saya berpikir jika saya berhasil membuat rusak atap ini maka saya akan memiliki sebuah rumah baru yang lebih indah dengan terpal biru. Akhirnya saya sobek atap tersebut menjadi lebih panjang lagi sekitar 40cm.
Ketika saya mendampingi bapak meninjau pohon mangga yang menjadi bahan percobaan bapak dengan obat yang bisa memperbanyak buah. Saya memberanikan diri minta dibuatkan rumah baru dengan alasan atapnya rusak. Bapak justru menjawab. “Karena kerusakan itu adalah ulahmu, maka bapak mengurungkan niat untuk membuatkanmu rumah dengan terpal biru.”
Saya pun menjawab ” Kan atapnya sobek pak..” Bapak tidak mau kalah ” Bukankah Fita yang menyobeknya? Tuh jejaknya masih ada. Itu kan pola jejak sandalmu.” Bapak menunjuk kumpulan jejak – jejak kaki.
Saya langsung malu, wah saya ketahuan garongnya nih. Memang jejak sandal saya sangat mudah dikenali, karena ibu membelikan saya sandal yang tidak ada yang memiliki di lingkungan ini kecuali saya.
Wah saya ketahuan, akhirnya bapak lalu mambongkar rumah mungil saya. Saya pun membereskan segala perabotan.
Beberapa minggu kemudian say a bangun kembali rumah kecil saya. Kali ini saya bangun sendiri di pojokan rumah, di bawah pohon mangga besar dekat ayunan. Atapnya adalah karung yang saya gunakan sebagai tikar. Sedang alasnya adalah karung bekas pupuk dengan tulisan khas PUSRI.
Hm… ternyata untuk menjadi seorang yang curang butuh intelejensi yang tinggi. Kalau nggak nanti bisa ketahuan lagi.

titip rindu buat bapak, dalam darahku mengalir gelegak cinta untuk beliau. Pahlawanku dalam malam – malam menjelang tidurku.

Permalink 2 Komentar

lelaki idamanku…

Mei 7, 2009 at 3:15 am (Uncategorized) ()

membaca banyak blog dari teman – teman tentang pengalamannya bahwa mereka seang dihinggapi virus merah jambu, hm… memmbuat saya berpikir ulang. Apa iya yang namanya suami itu harus dibuat kriteris dan syarat – syarat agar nantinya hidup kita langgeng?
hm…entah itu berpengaruh atau tidak pastinya saya juga ikut – ikutan teman – teman yang lainnya. Inilah Kriteria calon Suami Impian Saya :
1. Ikhwan ya iyalah ikhwan masa akhwat???
2. Hanif sholat lima waktu tepat dan berjamaah terutama shubuhnya. Sholat malam kalau bisa seminggu 7 kali kalau gak ya 5 kali saja.
3. Hafal minimal juz 30 dan QS: Ar – RAhman.
4. Perwira TNI kalau bisa.
Mengapa kok perwira TNI? ya soalnya saya memang dari dulu ingin punya suami tentara. kalau perwira kan bisa masuk sistem sehingga ada backing dalam dakwah.
selain itu saya gak suka dengan ikhwan yang lelet, lemah, letih , lesu, lunglai, lola, lebay dan letoy.
Maaf para IKhwan bukannya meremehkan tapi jujur kadang saya sering gregetan jika menghadapi ikhwan yang gak cepat tanggap dalam menghadapi sesuatu. hm… yah ini hanya sekedar keinginan. semoga Allah mengabulkan dan pastinya impian ini akan sering saya revisi sehingga pada akhirnya bisa memperoleh yang pas buat saya

Permalink 6 Komentar

ANTARA MADONA DAN MARADONA

Mei 1, 2009 at 2:24 am (Uncategorized) ()

Mendengar dua kata ini saya pasti ingin tertawa. Mengapa? Karena dua kata itu memiliki hikmah yang menurut saya ringan tetapi masuk di hati. Hidup saya adalah hidup yang dipenuhi dengan banyak kejahatan. Jangan salah mengartikan dulu, maksud saya kejahatan adalah, saya dan teman – teman SMP yang sangat suka sekali ngerjain orang. Minimal membuat mereka tidak nyaman dan risih terhadap kami sehingga orang yang kami kerjain menyingkir menjauh. Maka jangan heran kalau banyak orang menganggap saya dan teman – teman saya adalah kelompok anak – anak cukup diperhiutngkan. Pertama kelompok kami anti tawuran, anti perilaku asusila. Kedua kelompok kami adalah anak – anak yang nilainya di atas rata – rata. Sebagian besar adalah juara di kelas. Bukannya kami membedakan, tetapi kita semua memang cukup selektif dalam memilih teman. Ketiga, kelompok kami adalah anak – anak yang berasal dari kelas menengah ke atas. Sebagian besar orang tua kami adalah guru, jadi jangan heran kalau kelompok kami adalah kumpulan dari anak – anak paling rapi dan santun. Berikutnya, mengapa kelompok kami dinilai sebagai kelompok eksklusif, adalah kami semua keren. Maaf nih kalau punya tampang pas – pasan jangan harap bisa jadi anggota dari kelompok kami. Agak ekstrem memang, tapi jujur tidak ada yang protes, karena kami bisa menempatkan keekstreman itu diberbagai tempat. Kalau kita berhadapan dengan kelompok anak – anak nakal, mereka akan sungkan dengan prestasi kami. Kalau kita berhadapan dengan anak – anak borju, mereka juga tidak akan sok – sok nyombong karena mereka jauh prestasinya di bawah kami. (narsis sedikit boleh ya?)
Kembali pada dua kata tersebut, Madona dan Maradona. Itu adalah 2 kata kiasan yang kita berikan kepada sesuatu yang kami anggap tidak wajar. Dua kata itu adalah kata untuk mewakili sebuah padanan. Begini kisahnya. Teman – teman kami yang cowok adalah anak – anak yang sangat menyukai wajah – wajah cantik. Suatu hari kami punya kebiasaan ngumpul di masjid sekolah. Bukannya kami anak rohis, tapi karena masjid adalah tempat yang berada di jantung sekolah, dan dari masjid kita bisa bertemu dengan siapa saja. Dengan guru – guru yang sering kita kempesi ban kendaraannya, dengan adik – adik kelas yang sering kita goda, bahkan sering kita suruh nraktir. Bertemu dengan inceran kami, sampai bertemu dengan kelompok – kelompok lain. (astaghfirullah gak nyangka saya dulu senakal ini)
Waktu kami sedang istirahat seperti biasa kami langsung ngumpul di masjid. Beberapa dar kami sedang asyik mengutak – atik motor guru kami yang baru. Semantara Saya, Beni, Alfan, Fian dan Gayuh nongkrong di Masjid (hehehe… teman – teman saya sebagian besar adlah lelaki) tiba – tiba dari arah lapangan muncul seorang gadis cantik yang saya lupa namanya. Sebagaimana cowok normal yang menginjak masa remaja. Teman – teman saya langsung mengagumi dia. Sementara saya manganggap itu adalah hal yang biasa.
“Duh, cantiknya, dia anak kelas berapa ya???” Beny temanku yang paling dekat dan palilng setia serta menghamba (maksudnya dia itu sangat dekat dan sangat butuh saya terutama kalau ingin mencontek jawaban hehehe…)
Komentar – komentar kekaguman dari mereka segera bermunsulan ibaratnya hujan di musim hujan. Merasa terasingkan dan tersudut. Bagaimana saya tidak tersudut mereka langsung mengomentari dan membandingkan saya dengan gadis itu.
“Tuh, cewek itu seperti itu Fit. Anggun, cantik, feminin gak seperti kamu yang seperti ini.” Komentar mereka.
Harap maklum,saya dulu tomboy banget sampai orang – orang sulit membedakan saya dengan teman lelaki yang lainnya jika kami sedang jalan bersama. Merasa dipojokkan, wah!!! Saya gak terima donk… Langsung saja saya tangkis komentar mereka dengan satu senjata andalan. Sebuah ungkapan yang pernah saya dengar dari kakak saya
“Cantik sih seperti Madona tapi sayang betisnya itu seperti Maradona kalau begitu mana keren???” jawab saya enteng.
“ah, kamu pasti iri Fit, soalnya kamu gak bisa seperti dia.” Beny mematikan mentalku seperti biasanya, dia senang sekali memancing kemarahan saya. Bagi kami tiada hari tanpa berdebat dan bertengkar.
Serentak mereka diam sejenak. Berpikir sebentar. Setelah itu Alfan membuka pembicaraan.
“Dia pasti lewat sini lagi, kita buktikan apakah benar dia memiliki betis Maradona.”Fian yang cukup bijaksana menengahi.
Beberapa menit kami tunggu dia lewat lagi. Seperti biasa, setiap ada adik kelas yang lewat kita selalu tebar pesona, dan mereka pasti memberi anggukan hormat karena kami adalah orang – orang yang memiliki posisi penting di sekolah. Dia lewat, seperti yang kami harapkan. Kamipun memasang senyum agar dia terpesona pada kami. Seperti tradisi yang telah berjalan, dia memberi anggukantanda penghormatan. Sementara dia melintas, kami memperhatikan betisnya. Begitu dia berlalu…
“hwkakakakakakkak…hahahahaha.. ..” tawa kami meledak membuat beberapa orang yang lewat menoleh. Sementara kita terus tertawa emang gue pikirin.
“Wah betisnya gede, lebih besar dari punyaku” Gayuh memberi komentar.
“Memangnya dulu ngapain ya???kok betisnya bisa sebesar itu?? “ noval menyumbang suara.
“Heran deh Fit wong dirimu saja yang pelari gitu betisnya tidak sebesar itu kok dia bisa begitu ya??? Kita juga yang tiap hari main bola betisnya juga masih kurus – kurus saja.” Rifai ikut menyambung.
“Ya, mana aku tahu, makanya jangan gampang tergoda. Wajah sih oke tapi kalau betisnya begitu, apa kalian mau? Dasar mata lelaki ” Jawabku enteng.
“Hiiii…Ya gak maulah malu – maluin dong! Jawab mereka hampir bersamaan.
Ya, begitulah aku dan teman – temanku fisik oriented. Sejak saat itu setiap mereka bertemu dengan cewek mereka pasti memperhatikan secara detail siapa yang mereka ajak kenalan. Mereka tidak ingin punya cewek yang berwajah Madona tetapi betisnya seperti betis Maradona.
Dari kisah ini aku bisa memetik pelajaran, mengapa kita para wanita diwajibkan unutk berhijab. Menutup aurat yang terdiri dari seluruh badan kecuali tangan dan wajah. Allah tahu segalanya, termasuk hal – hal kecil seperti kejadian di atas. Dengan hijab kita akan terjaga dari segala hal yang tidak baik, salah satunya dari komentar – komentar miring seperti yang terjadi waktu itu.
Hm… sekarang kita sudah sama – sama besar, sudah misah di tempat masing – masing. Beny sekarang di Jakarta jadi TNI – AL aku biasanya memanggilnya popaye. Dan masih seperti dulu dia masih menganggapku sahabat terbaiknya. Diala yang paling sering menelpon meski hanya sekedar bertanya kabar atau curhat tentang pacarnya yang cerewet dan cemburuan.
Alfan sekarang di Surabaya, jadi polisi dengan seragamnya dia berhasil menggaet empat cewek sekaligus. Pastinya cewek – cewek tersebut memiliki betis yang ramping begitu setiap dia menceritakan ceweknya. Gayuh kuliah Di Jember sejak kuliah dia jarang memnghubungiku kabarnya sekarang dia pacaran dengan seseorang yang masih kerabatnya, Fian ada di Magelang katanya sedang mempersiapkan diri untuk tes ABRI, Rifai di Bali dan Noval kabarnya di Banyuwangi. Untuk dua orang terakhir mereka tidak terdeteksi sama sekali kabarnya.Ujung – ujungnya seperti biasa, Beny yang selalu menggangguku dan memancing – mincing kemarahanku via telepon. Dasar!!!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ibu, Ibu, Ibu dan Ayah

April 27, 2009 at 11:51 pm (Uncategorized) ()

Ibuku adalah bidadari
Meski dia tidak secantik dewi
Tapi setiap gerak ibu adalah pelangi
Dan senyumnya adalah mentari
Ibuku adalah pahlawan utama
Yang kan kutulis dalam sonata bait pertama
Jejaknya adalah wangi taman bunga
Dan tuturnya adalah sungai doa
Ibuku adalah pelita jiwa
Penuntun jalan ke syurga
Padanya bunga-bunga kan tersenyum
Dan bintangpun memberi salam
Ibuku adalah dewi kesempurnaan
Bukti Maha Agung penciptaan
Kasihnya tak habis dimakan zaman
Cintanya tak mati sepanjang jalan
Aku sayang,
Aku cinta,
Ibu, ibu, ibu
Dan ayah

Permalink 4 Komentar

Lagi Ingin Curhat nih…

April 25, 2009 at 9:25 pm (Uncategorized)

hari kemarin, waktu pelatihan SP2MP ada bayak ilmu yang aku dapatkan, ada banyak teman yang aku peroleh, ada bayak pengalaman yang aku alami dan ada banyak hikmah dari kegiatan itu.
tapi kok aku gak bisa menghilangkan pikiran yang rumit ini???
sulit fokus ingatnya hanya itu..itu..dan itu..
padahal sudah komitmen, anggap dia mati. jangan kenang dia, lupakan dia. kalau perlu hapus saja dia dari hidupku.
tapi kok gak bisa. aku tahu segala sesuatunya gak bisa instan tapi jangan begini. ini menyiksaku. membuatku merasa tidak tenang. aku benar – benar ingin membunuhnya. supaya dia tidak menggangguku lagi

Permalink 1 Komentar

CUK!!!

April 21, 2009 at 4:38 pm (Uncategorized) ()

Membaca kata CUK pasti langsung mengernyitkan dahi. Mengapa tidak, kata CUK pasti akan identik dengan kata DIANCUK!!! Yang artinya BRENGSEK! Bagi kebanyakan orang mereka pasti langsung mengerti. Pastilah orang yang mengatakan hal tersebut adalah orang Jawa Timur bagian timur. Yaitu kawasan wilayah Surabaya ke timur. Yah memang untuk kawasan tersebut yang terkenal bahasanya yang sangat kuasar kata – kata DIANCUK adalah sesuatu yang dianggap biasa. Bahkan bisa dibilang itu adlah simbol dari keakraban. Biasanya yang memakai bahasa seperti ini adalah orang dari kalangan yang tidak berpendidikan, kalangan bawah, serta orang yang kehidupannya rusak.
Semula saya berpikiran seperti itu… Seiring dengan berjalannya waktu sayapun kuliah, bertemu dan bergaul dengan bayak orang. termasuk menjelajahi dunia maya ini. Di sini , di internet, saya bisa bertemu dengan teman – teman masa sekolah dulu. Beberapa dari mereka adalah mahasiswa ITS, sebuah universitas yang masuk lima besar di Indonesia dan nomor 2 di bidang keteknikan setelah ITB pastinya.
Bergaul dengan mereka adalah sebuah karunia. Bagaimana tidak kehidupan yang keras dan kehidupan kampus teknik yang tak kalah kerasnya ditambah dengan keadaan Surabaya yang puanas dengan penduduknya yang kuasar.
jujur awalnya ngerasa aneh ketika teman – teman sedikit – sedikit ber CUK – CUK ria. ngerasa dihina. Tetapi setelah saya coba klarifikasikan ternyata CUK versi ITS dengan CUK versi pasaran beda!
CUK versi ITS adalah kependekan dari Cerdas, Unik dan Kreatif. Itu adalah prinsip wajib yang mereka pegang setiap akan melakukan tindakan. Jadi jangan Heran kalau mereka tidak jarang alias hampir selalu meraih juara dalam lomba keteknikan. mulai dari lomba robot sampai lomba yang lainnya.
Hm…. sepertinya saya memang harus melihat lebih dekat… maka sekarang saya tidak perlu heran ketika saya membaca di hampir semua sticker ITS pasti ada tulisan Arek ITS, CUK! dan itu adalah kenyataan. Sekarang bagaimana dengan ugm??? mau buat slogan juga gak???
saya harap anak ugm lebih CUK!!!

Permalink 2 Komentar

tombo kangen

April 20, 2009 at 11:23 pm (Uncategorized) ()

Home sick..itulah yang biasanya dirasakan oleh para mahasiswa baru. Termasuk saya, bagaimana saya tidak home sick?? Di rumah ibu senantiasa memanjakan semua anggota keluarga untuk dengan masakan beliau yang mak nyuzz dan mak nyozz (hampir semua masakan ibu pedas dan asin, lidah jawa timur banget dah!!). Ibu paling tidak tega jika orang – orang yang beliau sayangi makan masakan orang lain/masakan warung. Kecuali untuk beberapa menu yang ibu memang tidak sempat membuatnya. Rujak , bakso dan mie gepeng bumbu hitam. Sebenarnya bukannya tidak bisa, tapi ibu adalah type wanita Srikandi alias sibuk ono ngendi – ngendi. Jadi paling malas kalau bikin masakan tersebut. Tanggung waktu kata beliau.
Di Jogya, di kota yang mbujui ini, jujur saya tersiksa. Bagaimana tidak, mau makan sambel eh..sambelnya manis harus mengambil 4 kali lipat porsi oang normal. mau makan sayur, tampilannya saja yang kinyis – kinyis rasanya tetap saja manis. semuanya manis. asli jogya tidak akan pernah menjadi tempat yang cocok unutk para penderita penyakit gula.
Bermula pada hal tersebut, tumbuhlah pohon kerinduan. Kangen masakan ibu, kangen tukang rujak langganan (hampir tiap hari menu makan siang rujak), kangen tukang bakso langganan (hampir tiap malam saya makan bakso). Maka saya memulai ekspedisi. Menjelajah makanan yang rasanya mirip rasa jawa timur tapi tidak saya temui. Sampai pada suatu waktu, mas – mas dan mbak – mbak BIMO di Forsalam ngajak ke JHFC (jogja Halal Food Court) di sana saya menemukan sebuah harta tak ternilai “Rujak Cingur” Alhamdulillah, akhirnya saya bisa makan rujak juga.
Tanpa keraguan lagi saya langsung tulis di daftar pesanan Rujak Cingur lombok 5. Lho kok hanya 5???? Hm,,, waktu itu saya sedang diare jadi lima saja dulu. Besok – besok kalau ada kesampatan saya pesan sesuai standart 7-15 lombok hehehehe…
Baiklah sekarang mari kita evaluasi rujak cingur bikinan ibu Lis. Apakah sudah memenuhi standart keJawa Timurannya???
Pertama kita teliti bumbunya. Ada unsur kacang gorengnya. Ada unsur lombok, garam dan gula. Ada petisnya tapi sedikit, kalaupun ada bisa ditebak petisnya tidak memakai petis standart, yaitu petis udang Sidoarjo cap Udang Windu. Petis paling mahal tuh…Tidak ada rasa cukanya, padahal rujak itu dikenal sebagai makanan yang nonjok asem, pedas dan manis asinnya.
Dari Segi isi alias ubo rampe. ada Sayuran, sip sayurnya berupa kangkung rebus. itu adalah harga mati rujak elit. Ada nenasnya bagus itu adalah harga mati juga sebuah rujak dikatakan elit. ada bengkoang (harusnya ini kedondong atau mangga). Tahu Tempe. terus ada ketupatnya, kalau ibunya benar – benar berniat tidak menghilangkan cita rasa Jawa Timur harusnya ketupat diganti lontong.
baiklah …. saya hargai kesunguhan tu ibu yang sudah membuat rujak cingur semirip mungkin dengan rujak cingur di jawa timur. Satu nilai yang sangat penting, Cingur si ibu bisa menyajikan cingur dengan sempurna. bersih, empuk tapi kenyal. sebuah kesempurnaan pengolahan cingur yang baik.
Hm… kalau boleh saya nilai saya beri nilai 8 deh…
Pastinya saya tidak lupa memberikan ucapan terimakasih kepada semuanya, kepad team BImo yang sudah ngajak ke sana. Benar – benar tuh rujak menjadi tombo kangen bagi penyakit rindu yang menggebu ini… terimakasih ..tombo kangen soko Jakal km 8.

manuk kebur kecebur sumur
eling Jawa timur, eling rujak cingur rek!rujak-cingur1

Permalink 1 Komentar

April 20, 2009 at 10:24 pm (Uncategorized)

rujak-cingur

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Catatan Tentang Pemilu 2009

Maret 26, 2009 at 7:04 pm (Uncategorized)

PEMILU 2009 Beda!!!
Pemilu tahun 2009 beda! Dulunya nyoblos sekarang nyontreng. Dulunya pakai paku, sekarang pakai spidol. Kalau dulu partainya hanya partai nasional, sekarang partainya ada dua macam ada partai nasional yang lainnya adalah partai daerah. Partai nasional berjumlah 38 partai sementara partai daerah berjumlah 6 partai. Total keseluruhannya ada 44 partai. Untuk surat suara, jangan Tanya kali ini lebih keren karena ukurannya super besar ukuran A2 (ini untuk yang calon legislatif). Dijamin para pemilih akan bingung, selain ukurannya yang jumbo, tulisannya banyak dan tidak menarik, melipatnyapun susah.
Untuk calon pemilih, jika mereka tidak berada di daerah asal (daerah yang sesuai KTP), mereka harus mengurusi surat mutasi nama bekennya surat A5. Katanya sih, tata cara mengurusnya sangat mudah sebagai berikut :
1. Hubungi ketua PPS di RT temapt asal
2. Minta surat A5
3. Bawa surat A5 tersebut ke ketua PPS di tempat yang baru
4. Daftar jadi pemilih di tempat yang baru
Sekilas secara teori memang mudah, tapi jika dipraktekkan tidak semua yang dijelaskan dalam tata cara itu benar. Mungkin untuk orang – orang yang tinggal di wilayah terang (wilayah yang masyarakatnya mayoritas mengerti dan melek terhadap politik serta up to date terhadap hal – hal yang akatual)kita bisa dengan mudah mengurusi surat mutasi pemilu. Akan tetapi untuk kita yang tinggal di daerah suram apalagi yang tinggal di daerah gelap. Jangankan untuk mengurus A5, mendengar istilah A5 saja mereka masih belum familiar. Jadi jangan heran ketika saya tiba – tiba berubah menjadi guru instan yang menjelaskan hakikat surat mutasi kepada ketua PPS di RT setempat. Ketika mereka mengerti, dan saya mulai merasa ada titik terang bisa memperoleh surat tersebut dengan lancar, bapak ketua PPS yang terhormat malah berkata.
“Waduh, maaf saya belum tahu bagaimana cara mengurusnya. Mungkin nanti saja ketika logistic dating saya tanyakan sama petugasnya yang lebih tahu alurnya.”
Gubrakz!!!! Spontan harapan saya langsung pupus. Padahal saya sudah capek – capek menjelaskan hakikat surat A5. Akhirya dengan langkah semrawut tak teratur pulanglah saya ke rumah. Sampai detik ini, sampai saya kembali beraktifitas di kampus hampir sebulan, si bapak tidak kunjung bisa mengurus surat tersebut. Ada perasaan remuk redam di hati. Remuk karena harapan untuk bisa berpartisipasi dalam pesta rakyat terancam luruh, lantak alias gak bisa milih. Redam karena miris kok bangsaku kuper begini??? Please dong bapak, yang professional sedikit!!!
Inilah potret bangsa Indonesia saat ini. Intelektualitas hanya disandarkan pada kemampuan yang menurut saya di bawah standart kualitas. Apakah hanya karena bisa menulis, membaca, berhitung dan meraih gelar S1 alias sarjana bisa menjadi ketua PPS atau bisa menjabat di posisi yang memiliki daya fatalistic yang tinggi?
Ingatlah wahai bapak – bapak, pemilu itu penentu masa depan bangsa untuk 5 tahun ke depan. Kalau petugasnya saja tidak professional, bagaimana dengan yang menjadi caleg, dan pimpinannya???
Tolong dong, rakyat sudah susah memikirkan inflasi dan krisis global yang mencekik serta menggerogoti kantong. Mahasiswa sudah capek koar – koar tapi tidak digubris selain itu mau Ujian Tengah Semester pak, jadinya sibuk belajar. Para birokrat??? Mana mereka mau tahu, mereka sendiri sibuk sendiri. Ada yang sedang mengkalkulus harta bendanya sebagai ancang – ancang kalau tim dari KPK datang ke rumah mereka, ada sibuk mencalonkan diri lagi, ada yang sibuk cari tempat persembunyian dan masih banyak kesibukan – kesibukan yang tidak bermutu lainnya.
Sebenarnya ada birokrat yang bersih, peduli dan professional tetapi jumlah mereka sedikit, sehingga suara mereka kalah oleh suara dengkuran para anggota DPR yang sedang asyik tidur saat rapat di gedung DPR (eh, bagaimana kalau gedung DPR sebaiknya diganti nama saja???? Bukan gedung tapi rumah singgah. Karena gedung DPR adalah tempat persinggahan bagi para Dewan yang lelah karena berhari – hari melancong dengan alasan studi banding). Sedikitnya suara mereka, terbatasnya jumlah mereka dalam parlemen, membuat mereka tidak berdaya. Ingat prinsip Demokrasi Barat, suara yang disepakati adalah suara terbanyak.
Miris memang, kita ingin lebih baik, tapi kalau untuk berbenah saja kita tidak mau, wah… makin hancur saja negeri ini. Kita sudah kehilangan kepercayaan terhadap TNI sejak era Pak Harto (tapi tidak semua TNI buruk, setidaknya dari yang buruk masih ada yang agak baik. Beruntung Kepolisian mulai berbenah, banyak aktivis dakwah kampus yang masuk Akpol jadi jangan heran kalau polisi – polisi sekarang banyak yang hafal al – quran. Ayo TNI kapan menyusul??? Waktunya berbenah, ingat kiamat makin dekat!)
Maka dari itu tidak heran jika semakin hari semakin hari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin hari semakin luntur. Mereka sudah jemu dibohongi oleh para birokrat yang hanya berjanji tanpa bukti, bervisi tanpa misi dan bermimpi tanpa aksi. Bicara tentang kejemuan, saya juga sudah jemu mengurusi surat A5 yang tidak kunjung ada titik terangnya.
Semakin ragu saja saya bakal bisa jadi warga Negara yang baik. Mau protes nanti dibilang membangkang alias maker. Mau menurut, apakah yang salah harus dituruti? Entah saya yang terlalu skeptis atau memang kenyataan. Saya merasa ada konspirasi dibalik ini semua. Seperti biasa para birokrat yang sudah memperoleh posisi nyaman tidak ingin periode yang akan datang kehilangan kursi.
Berdasarkan data yang saya dapatkan dari harian Kompas tertanggal 1 Desember 2008 jumlah pemilih terbesar adalah rakyat dengan rentang usia 17 – 21 tahun disusul oleh usia 22 – 29 tahun. Kedua ranah usia tersebut adalah usia di mana para pemuda sedang asyik – asyiknya menuntut ilmu. Mereka sebagian besar adalah para mahasiswa dan siswa.
Bukankah jumlah universitas di Indonesia sangat terbatas jumlahnya dan hanya terdapat di kota – kota tertentu. Jadi warga dengan rentang usia 17 – 29 tahun sebagian besar adalah anak – anak rantau yang sedang meneruskan studinya. Maka, mau tidak mau mereka harus melakuakan mutasi agar bisa ikut pemilu. Berdasarkan kenyataan, warga dengan rentang usia di atas cenderung memilih atau simpatisan dari partai yang katanya partainya anak muda. Bagi para birokrat yang berasal dari partai ini adalah ancaman. Maka tidak heran jika mereka akan melakukan berbagai cara untuk menghambat kemenangan partai lawan.
Pemilu kali ini benar – benar berbeda dengan pemilu yang kemarin – kemarin. Tepatnya ketika bapak saya masih menjadi petugas pemilu di era Soeharto. Jika dulu para pegawai negeri dan TNI/POLRI wajib memilih si Mbah yang diusung partai Pohon Beringin, saat warga bebas memilih. Tidak ada ancaman gaji akan dikebiri atau dipecat. Jika saat itu para panitia/petugas pemilu harus rela menyusuri jalan – jalan becek di desa – desa terbelakang, bahkan sampai harus menginap meninggalkan keluarga untuk mendata, mendaftar, memberi pengarahan dan sedikit memaksa penduduk untuk ikut pemilu (hehehe… bapak dulu seperti ini lho kerjanya tiap pemilu) Sementara pemilu sekarang warga sering terabaikan, petugas bekerja seenaknya saja,maka jangan kalau sering ada penduduk yang namanya terdaftar hingga berkali – kali. Sekarang mau mutasi saja susahny aminta ampun.
Pemerintah adalah pelayan masyarakat, jadi tolong dong, wahai yang memerintah dan aparaturnya yang mudah jangan dipersulit. Katanya pemilu ingin berjalan dengan lancar. Kepada para petugas PPS jangan hanya pasif dan diam saja, proaktif dong! Cari info sebanyak – banyaknya tentang pemilu. Masa kalah sama mahasiswa?????
Catatan buat Lek Basuki, A5 kaule bile bisa eurus lek??? Kaule melea jugen… napa kodu paleman ka Parajeggan???? Sobung pessena mon paleman lek!!!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »